Kawasan Sunter di Jakarta Utara merupakan permukiman padat yang berdampingan dengan area industri, dengan timbulan sampah harian yang melampaui kemampuan layanan pengangkutan.
Bank Sampah Pulo Besar yang dijalankan PT Toyota Manufacturing Indonesia Sunter 2 Plant menata persoalan tersebut melalui pengorganisasian warga.
Pengorganisasian menjadi langkah awal karena pengelolaan sampah menuntut kesepakatan bersama mengenai jadwal, tempat, dan pembagian peran di antara warga.
Nasabah bank sampah menyetorkan bahan yang telah dipilah dan memperoleh catatan nilai dalam buku tabungan, sebuah mekanisme yang membuat manfaatnya terasa nyata.
Sampah organik diolah menjadi kompos untuk kebutuhan tanaman di lingkungan, mengurangi bagian sampah yang paling cepat membusuk dan menimbulkan bau.
Sampah anorganik dipilah menurut jenis dan dijual ke pengepul, dengan sebagian diolah menjadi produk kerajinan yang harganya lebih tinggi dibanding bahan mentah.
Pelatihan diberikan mengenai teknik pembuatan produk daur ulang serta cara memasarkannya, agar hasil kerja kelompok menemukan pembeli yang tepat.
Perusahaan otomotif yang mendampingi membawa kebiasaan kerja industri berupa penataan tempat kerja dan pencatatan yang rapi, praktik yang jarang ditemui pada pengelolaan sampah warga.
Jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir berkurang, sementara warga memperoleh tabungan yang dapat dicairkan untuk kebutuhan sekolah atau hari raya.
Keberadaan bank sampah di tengah permukiman padat ini membuktikan bahwa keterbatasan ruang bukan penghalang, selama warganya bersedia bekerja dengan sistem.
- Perusahaan pelaksana
- PT Toyota Manufacturing Indonesia - Sunter 2 Plant
- Sektor perusahaan
- Manufaktur Otomotif
- Wilayah
- Kota Jakarta Utara, DKI Jakarta
- Pilar SDGs
- SDG 12
- Tahun
- 2023