Sungai Hitam di Sangasanga, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, merupakan habitat bekantan, primata endemik Kalimantan berhidung panjang yang populasinya terus menyusut akibat penyempitan wilayah jelajah.
Program Ekoriparian Sungai Hitam Lestari yang dijalankan PT Pertamina EP Field Sangasanga menata kawasan tersebut ke dalam pembagian zona yang tegas.
Zona konservasi bekantan ditetapkan sebagai wilayah yang dijaga ketat, memastikan primata tersebut memiliki ruang jelajah dan sumber pakan yang tidak terganggu aktivitas manusia.
Zona penyangga mangrove berfungsi sebagai peredam antara kawasan lindung dan kegiatan warga, sekaligus menahan abrasi tepian sungai yang dipengaruhi pasang surut.
Zona pengembangan ekowisata susur sungai dan UMKM menjadi tempat kegiatan ekonomi terpusat, sehingga tekanan terhadap kawasan inti dapat dikendalikan.
Pembagian zona semacam ini menyelesaikan pertentangan yang lazim terjadi, yakni antara kebutuhan warga mencari nafkah dan keharusan melindungi satwa yang terancam.
Unit pengolah air limbah berbentuk terapung dirancang khusus agar adaptif terhadap pasang surut, menjawab kendala teknis yang membuat instalasi konvensional tidak dapat bekerja di perairan semacam itu.
Kemampuan mengapung mengikuti ketinggian air menjaga proses pengolahan tetap berjalan stabil sepanjang hari tanpa memerlukan pengaturan ulang secara manual.
Eco-enzyme yang diolah dari sampah organik warga ditebar untuk membantu memperbaiki kualitas air, memanfaatkan bahan yang sebelumnya berakhir di tepian sungai.
Edukasi konservasi dijalankan berkelanjutan, karena keberadaan bekantan pada akhirnya bergantung pada apakah warga di sekitarnya memandangnya sebagai kebanggaan atau sebagai penghalang.
- Perusahaan pelaksana
- PT Pertamina EP Asset 5 - Field Sangasanga
- Sektor perusahaan
- Migas
- Wilayah
- Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur
- Pilar SDGs
- SDG 14
- Tahun
- 2024