Industri pengolahan kayu menuntut pasokan bahan baku yang berkelanjutan, sebuah kebutuhan yang hanya dapat dipenuhi bila kawasan sumbernya tetap terjaga.
Integrated Social Forest yang dijalankan PT Kutai Timber Indonesia di Kota Probolinggo mengembangkan pengelolaan hutan sosial secara terpadu bersama masyarakat.
Keterpaduan pada program ini berarti kegiatan penanaman, perawatan, dan pemanfaatan dirancang sebagai satu alur, bukan sebagai kegiatan yang berdiri sendiri.
Masyarakat dilibatkan sejak tahap pembibitan, memperoleh keterampilan sekaligus penghasilan dari kegiatan yang mendahului penanaman.
Jenis tanaman dipilih dengan mempertimbangkan kecepatan tumbuh dan kesesuaian dengan kebutuhan industri, agar hasilnya memiliki penyerap yang jelas.
Warga memperoleh hak memanfaatkan lahan di antara tegakan untuk tanaman semusim, memberi pemasukan pada masa tunggu sebelum pohon siap dipanen.
Pengaturan seperti ini menjawab kendala terbesar program kehutanan, yaitu jeda panjang tanpa penghasilan yang membuat warga kehilangan minat merawat tanaman.
Petunjuk teknis diberikan mengenai jarak tanam, pemangkasan, dan pengendalian hama yang menentukan mutu kayu saat dipanen.
Luas tutupan bertambah dan fungsi ekologis kawasan pulih, sementara industri memperoleh kepastian pasokan dari sumber yang dikelola secara lestari.
Hubungan antara pabrik dan warga bergeser menjadi kemitraan dagang, bentuk yang lebih setara dibanding penyaluran bantuan satu arah.
- Perusahaan pelaksana
- PT Kutai Timber Indonesia
- Sektor perusahaan
- Manufaktur
- Wilayah
- Kota Probolinggo, Jawa Timur
- Pilar SDGs
- SDG 15
- Tahun
- 2023