Nelayan Kampung Tihi-Tihi di Bontang Selatan hidup dengan ketidakpastian yang berulang, karena cuaca buruk memaksa mereka menepi dan penghasilan pun terhenti seketika.
Bagan apung telah lama menjadi impian warga sebagai sarana yang memungkinkan menangkap ikan tanpa harus melaut jauh, ibarat sawah yang berada di tengah laut.
JAKA SAMUDRA, kependekan dari Jaringan Kawasan Sistem Pelampung Akuakultur Modern Ramah Lingkungan, dihadirkan PT Badak NGL untuk mewujudkan harapan tersebut.
Pelampung bagan dibuat dari pipa Fiberglass Reinforced Plastic dan polyurethane sisa proses produksi, dengan ketahanan yang diperkirakan mencapai empat puluh tahun.
Daya tahan sepanjang itu mengubah perhitungan usaha nelayan, lantaran pelampung konvensional harus diganti berkala dan biayanya menggerus keuntungan setiap beberapa tahun.
Sensor pintar dipasang untuk mendeteksi kebocoran dini sekaligus kemiringan bagan, dibuat dengan memanfaatkan tubing dari unit pendingin udara bekas.
Peringatan dari sensor tersebut dikirim ke telepon genggam nelayan, memungkinkan pemantauan dari jarak jauh dan pencegahan bagan karam sebelum kerusakan menjadi parah.
Apartemen ikan berupa concrete reef berbentuk rangka kubus ditempatkan di bawah bagan, dibuat dari limbah non-B3 kalsium silikat sebagai terumbu buatan.
Struktur tersebut berfungsi sebagai tempat tinggal ikan sehingga populasi di sekitar bagan meningkat, dan hasil tangkapan nelayan tercatat naik hingga dua kali lipat.
Inovasi ini melengkapi rangkaian sebelumnya berupa KAPSURULA, kapsul pelampung rumput laut ramah lingkungan yang telah dipakai sebanyak 1.500 unit menggantikan pelampung plastik, dan seluruhnya berada di bawah payung program Menara Marina.
- Perusahaan pelaksana
- PT Badak NGL
- Sektor perusahaan
- Migas
- Wilayah
- Kota Bontang, Kalimantan Timur
- Pilar SDGs
- SDG 14
- Tahun
- 2024