Desa Matano di Kecamatan Nuha, Luwu Timur, berada di kawasan yang menyimpan sistem danau purba sekaligus daerah aliran sungai yang menopang kehidupan warga di sekitarnya.
Praktik pertanian monokultur yang berlangsung lama menyebabkan tanah kehilangan kesuburan dan lereng menjadi rentan erosi setiap kali hujan deras turun.
MATANO INIAKU, kependekan dari Inovasi Integrasi Alam dan Kreativitas Usaha, dijalankan PT Vale Indonesia Tbk untuk memulihkan kawasan tersebut melalui pendekatan berbasis alam.
Rehabilitasi daerah aliran sungai dilakukan pada hamparan seluas dua ratus hektare dengan teknik agroforestri yang memanfaatkan tanaman naungan dan tanaman penutup tanah.
Peralihan dari monokultur ke polikultur menjadi kunci perubahan, mengingat keragaman jenis tanaman memperbaiki struktur tanah, menahan erosi, dan menyebarkan risiko gagal panen.
Hasil rehabilitasi terbaca pada angka yang terukur, dengan debit air Sungai Laa Waa meningkat hingga 0,6 meter kubik per detik dan penurunan emisi mencapai 22.538 ton CO₂eq.
Produk turunan agroforestri dikembangkan berupa kerajinan gaharu, selai durian, dan jus kecombrang, memanfaatkan tanaman yang tumbuh dalam sistem tanam beragam tersebut.
Ekowisata LAA WAA River Park dibangun di sekitar muara sungai dan dikelola kelompok Desa Wisata Matano yang beranggotakan delapan belas orang, dengan wahana permainan air, camping ground, dan penginapan.
Pendapatan kelompok rentan tercatat meningkat pada kisaran satu hingga empat juta rupiah per bulan melalui agroforestri, pusat kreatif, dan pengelolaan wisata berbasis alam.
Program ini memperoleh Penghargaan Subroto 2025 dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral serta Indonesian CSR Awards 2025, pengakuan atas pendekatan yang menyatukan enam pilar modal pembangunan mulai dari alam, sosial, hingga budaya.
- Perusahaan pelaksana
- PT Vale Indonesia, Tbk.
- Sektor perusahaan
- Pertambangan & Mineral
- Wilayah
- Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan
- Pilar SDGs
- SDG 15
- Tahun
- 2024