Kata Melukat berasal dari Sulukat, gabungan Su yang berarti baik dan Lukat yang berarti penyucian, sebuah istilah yang berakar pada ritual pembersihan diri dalam tradisi Hindu-Bali.
Makna tersebut dipinjam PT PLN Indonesia Power PLTDG Pesanggaran untuk program konservasi mangrove di Taman Hutan Raya Ngurah Rai, menempatkan pembersihan kawasan sebagai laku spiritual sekaligus tindakan ekologis.
Pendekatan ini memiliki daya jangkau yang tidak dimiliki kampanye lingkungan biasa, karena keterlibatan warga tumbuh dari keyakinan yang sudah mereka pegang, bukan dari imbauan pihak luar.
Sampah yang terkumpul dari kawasan mangrove diolah menjadi suvenir, mengubah bahan yang mencemari menjadi barang yang malah menceritakan kondisi kawasan kepada pembelinya.
Ekowisata dikembangkan sebagai lini pendapatan yang mengandalkan kawasan tetap utuh, sehingga kepentingan pengelola dan kepentingan konservasi bergerak searah.
Budidaya ikan keramba dan kepiting dijalankan memanfaatkan perairan di sela mangrove, memberi penghasilan tanpa perlu membuka lahan baru atau menebang vegetasi.
Buah mangrove diolah menjadi produk pangan, sementara teknik eco print memanfaatkan daun untuk menghasilkan motif alami pada kain tanpa pewarna sintetis.
Eco print memiliki nilai lebih karena setiap lembar kain menghasilkan motif yang tidak pernah sama, menjadikannya produk bernilai seni yang harganya jauh di atas kain cetak biasa.
Mereka yang paling terpinggirkan pun disertakan dalam kegiatan produktif tersebut, termasuk penderita HIV yang di banyak tempat masih menghadapi penolakan untuk bekerja secara terbuka.
Edukasi konservasi bagi anak sekolah menutup rangkaian program, menautkan pelestarian mangrove dengan pemahaman spiritual dan lingkungan yang ditanamkan sejak usia dini.
- Perusahaan pelaksana
- PT PLN Indonesia Power PLTDG Pesanggaran
- Sektor perusahaan
- Energi Pembangkitan
- Wilayah
- Kota Denpasar, Bali
- Pilar SDGs
- SDG 14
- Tahun
- 2024