Taman Hutan Raya Ngurah Rai membentang di pesisir selatan Bali dan menyimpan hamparan mangrove yang menjadi benteng terakhir kawasan itu terhadap abrasi.
Nama Menyamama Braya diambil dari falsafah Bali yang berarti persaudaraan, sebuah pilihan yang menandai bahwa pengelolaan kawasan diserahkan pada ikatan kebersamaan warga.
PT PLN Indonesia Power Unit Pembangkitan Bali Unit Bisnis Pesanggaran mengembangkan pembinaan ekowisata mangrove di kawasan ini bersama kelompok masyarakat setempat.
Kegiatan diawali dengan pembibitan dan penanaman, tahap yang menuntut ketelitian karena bibit mangrove memerlukan kedalaman dan salinitas yang sesuai agar bertahan hidup.
Perawatan berkala dijalankan untuk membersihkan sampah yang tersangkut di akar, sebuah pekerjaan berulang yang menentukan apakah tanaman muda dapat tumbuh atau malah mati tercekik.
Kawasan yang membaik kemudian ditata menjadi tujuan wisata edukasi, lengkap dengan jalur pengunjung yang memungkinkan orang menyaksikan ekosistem tanpa merusaknya.
Kelompok pengelola dilatih menyusun paket kunjungan, memandu wisatawan, dan menjelaskan fungsi ekologis mangrove kepada tamu yang datang dari dalam maupun luar negeri.
Kemampuan bercerita menjadi modal yang tidak kalah penting dari kemampuan menanam, karena nilai jual ekowisata terletak pada pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh pengunjung.
Pendapatan dari jasa wisata mengalir ke kas kelompok dan dibagi menurut kesepakatan bersama, menjadikan hasil pengelolaan kawasan terasa langsung bagi para anggotanya.
Bertambahnya tutupan mangrove di kawasan Denpasar sekaligus memperkuat perlindungan pesisir dari gelombang, menambah simpanan karbon, dan memulihkan habitat biota yang menjadi sumber tangkapan nelayan.
- Perusahaan pelaksana
- PT PLN Indonesia Power - Unit Pembangkitan Bali Unit Bisnis Pesanggran
- Sektor perusahaan
- Energi Pembangkitan
- Wilayah
- Kota Denpasar, Bali
- Pilar SDGs
- SDG 15
- Tahun
- 2023