Batik konvensional menggunakan pewarna sintetis yang limbah cairnya mencemari saluran air, persoalan yang biasanya melekat pada sentra batik di berbagai daerah.
PALEMBANG CINDO NIAN, yang mengusung gagasan Clean Batik Initiative, dijalankan PT PLN Indonesia Power PLTGU Keramasan untuk memutus ketergantungan tersebut.
Limbah hortikultura dan sisa makanan dimanfaatkan sebagai pewarna alami, mengubah bahan yang berakhir di tempat sampah menjadi sumber warna bagi kain.
Pewarna alami memberi karakter yang tidak dimiliki pewarna sintetis, yakni gradasi warna yang lembut dan sedikit berbeda pada setiap lembar kain.
Motif yang dikembangkan mengangkat aksara ulo khas Sumatera Selatan, memberi identitas budaya yang membedakan produk ini dari batik daerah lain.
Penggunaan aksara daerah sebagai motif memiliki nilai ganda, yaitu memperkuat daya jual sekaligus memperkenalkan kembali warisan tulis yang mulai jarang dikenali generasi muda.
Kolaborasi dijalin dengan kelompok crafter setempat yang telah memiliki keterampilan dasar, mempercepat proses produksi tanpa harus memulai pelatihan dari titik nol.
Perempuan penyandang disabilitas dilibatkan sebagai pelaku produksi, membuka lapangan kerja bagi kelompok yang paling jarang memperoleh kesempatan di sektor kreatif.
Warga binaan lembaga pemasyarakatan wanita turut dilibatkan, memberi keterampilan yang dapat menjadi bekal penghidupan setelah masa pidana berakhir.
Peralatan ramah disabilitas dirancang dari limbah non-B3, memastikan proses membatik dapat dijalankan peserta dengan kondisi fisik beragam tanpa hambatan teknis.
- Perusahaan pelaksana
- PT PLN Indonesia Power PLTGU Keramasan
- Sektor perusahaan
- Energi Pembangkitan
- Wilayah
- Kota Palembang, Sumatera Selatan
- Pilar SDGs
- SDG 12
- Tahun
- 2024