Garis pantai Kota Dumai terus tergerus abrasi, dan bagi warga pesisir hal itu berarti hilangnya tempat tinggal serta menyempitnya wilayah tangkap secara bersamaan.
Pihak pengelola kilang di kota tersebut, PT Kilang Pertamina Internasional Refinery Unit II Dumai, menjawabnya dengan lima program yang saling terkait, yakni PESIAR, TANKER, PINAS, BIDUK, dan BEDELAU MINAPOLITAN.
Penamaan yang berbeda-beda tersebut menandai sasaran yang berlainan, mulai dari resiliensi kawasan, penguatan ekonomi, peningkatan kapasitas, kesehatan ibu dan anak, hingga kemandirian nelayan.
Pertahanan pertama terhadap abrasi berupa konservasi mangrove yang diperkuat Alat Pemecah Ombak dari ban bekas, memanfaatkan limbah yang berlimpah untuk meredam energi gelombang.
Susunan ban bekas berfungsi sementara sebagai penahan sampai mangrove yang ditanam cukup kuat berdiri sendiri, sebuah tahapan yang sering diabaikan pada penanaman tanpa pelindung.
Budidaya ikan sistem bioflok dikembangkan sebagai sumber pendapatan yang tidak bergantung pada cuaca, memungkinkan warga tetap berproduksi ketika gelombang tinggi menghalangi kegiatan melaut.
Pengolahan hasil tangkapan menjadi kelanjutannya, memindahkan nilai tambah dari pedagang perantara kepada kelompok pengolah yang sebagian besar adalah istri nelayan.
Green Laundry dihadirkan sebagai lapangan kerja alternatif berbasis usaha jasa yang ramah lingkungan, membuka pilihan bagi warga yang tidak berminat pada sektor perikanan.
Kelas inspirasi bagi anak pesisir dan pelatihan perbaikan kapal menyasar dua ujung yang berbeda, yaitu masa depan generasi muda dan keterampilan teknis yang langsung menopang armada tangkap.
Pendampingan gizi balita menutup program tersebut sebagai jawaban atas stunting, persoalan yang di kawasan pesisir kerap luput karena perhatian tertuju pada kerusakan fisik lingkungan semata.
- Perusahaan pelaksana
- PT Kilang Pertamina Internasional Refinery Unit II Dumai
- Sektor perusahaan
- Migas
- Wilayah
- Kota Dumai, Riau
- Pilar SDGs
- SDG 14
- Tahun
- 2024