Dusun Babadan di Kota Bontang memiliki tiga kegiatan produktif yang sejauh ini berjalan sendiri-sendiri, yaitu bertani, beternak, dan memelihara ikan.
Keterpisahan itu melahirkan pemborosan. Batang jagung sisa panen dibiarkan menumpuk, kotoran ternak menjadi sumber bau, sementara peternak tetap harus membeli pakan dan petani tetap membeli pupuk.
PKT BISA yang dijalankan PT Pupuk Kaltim menyatukan ketiganya melalui pertanian kompos terpadu, sebuah rancangan yang menjadikan keluaran satu kegiatan sebagai masukan kegiatan lainnya.
Batang jagung diolah menjadi silase, yaitu pakan hasil fermentasi yang mampu disimpan lama dan sebaliknya meningkat nilai gizinya dibanding dedaunan segar yang cepat membusuk.
Ketersediaan silase menjawab persoalan paling menekan bagi peternak, yaitu kelangkaan hijauan pada musim kemarau ketika rumput sulit ditemukan di sekitar kandang.
Kotoran hewan diproses menjadi kompos yang dikembalikan ke lahan pertanian, menggantikan sebagian pupuk kimia sekaligus memperbaiki struktur tanah yang tidak dapat dipulihkan pupuk pabrikan.
Pemakaian pupuk organik terbukti mendongkrak produktivitas lahan, dan pendampingannya sejalan dengan kompetensi perusahaan pupuk yang menguasai perhitungan kebutuhan hara tanaman.
Produk turunan kacang tanah dikembangkan sebagai lini hilir, memberi nilai tambah pada komoditas yang sebelumnya dijual mentah dengan harga yang ditentukan sepenuhnya oleh pembeli.
Lebih dari seratus penerima manfaat terlibat dalam upaya tersebut, jumlah yang menunjukkan bahwa model terpadu ini mampu menampung peran beragam sesuai kemampuan masing-masing warga.
Kekuatan rancangan terpadu terletak pada ketahanannya. Ketika harga satu komoditas jatuh, kegiatan lain tetap berjalan dan biaya produksinya sudah lebih dulu ditekan oleh putaran material di dalam dusun itu sendiri.
- Perusahaan pelaksana
- PT Pupuk Kaltim
- Sektor perusahaan
- Pupuk
- Wilayah
- Kota Bontang, Kalimantan Timur
- Pilar SDGs
- SDG 2
- Tahun
- 2024