Ketersediaan air menjadi penentu utama keberhasilan bertani, dan di banyak wilayah pesisir Gresik sumber air tawar merupakan barang langka.
Program Eco Edu Farming yang dijalankan PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore menjawabnya dengan memanen air dari dua sumber yang jarang dimanfaatkan.
Pemanenan air hujan dilakukan melalui penampungan terstruktur, sementara pemanenan air dari udara memanfaatkan proses pengembunan yang menghasilkan air bahkan pada musim tanpa hujan.
Teknologi atmospheric harvesting seperti ini masih tergolong baru di tingkat pertanian rakyat, dan penerapannya membuka kemungkinan bertani di lokasi yang sebelumnya dianggap tidak layak.
Limbah dapur dan kotoran hewan diolah menjadi pupuk organik cair sekaligus mikroorganisme lokal, yaitu kumpulan mikroba asli setempat yang berfungsi mempercepat penguraian dan menyuburkan tanah.
Mikroorganisme lokal memiliki kelebihan karena telah beradaptasi dengan kondisi tanah dan iklim setempat, sehingga bekerja lebih efektif dibanding produk yang didatangkan dari luar daerah.
Soil Nutrient Sensor dipakai untuk membaca kondisi hara tanah secara terukur, menggantikan kebiasaan menebar pupuk berdasarkan perkiraan yang kerap berlebihan.
Budidaya melon dijalankan dengan sistem hidroponik Machida bertenaga surya, memungkinkan penanaman komoditas bernilai tinggi tanpa bergantung pada kesuburan tanah setempat.
Pelatihan pembuatan silase ditambahkan sebagai pelengkap, mengubah hijauan dan sisa panen menjadi pakan ternak yang tahan simpan hingga musim paceklik.
Kata edu pada nama program menandai fungsi keduanya, yakni sebagai kawasan percontohan tempat petani lain datang belajar, sehingga penerapan teknologi tersebut menyebar tanpa harus dibiayai ulang.
- Perusahaan pelaksana
- PT Pertamina Hulu Energi - West Madura Offshore (PHE WMO)
- Sektor perusahaan
- Migas
- Wilayah
- Kabupaten Gresik, Jawa Timur
- Pilar SDGs
- SDG 2
- Tahun
- 2024