Pertanian tadah hujan di Kecamatan Bacukiki, Kota Parepare, Sulawesi Selatan, hanya memungkinkan satu kali panen dalam setahun. Alasannya, di luar musim hujan lahan dibiarkan kosong karena ketiadaan sumber air.
Program Kampung Energi Berdikari Bacukiki dengan pendekatan Mapalili 4.0 yang dijalankan PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Pare-Pare mengubah keterbatasan tersebut.
Reaktor biogas dibangun memanfaatkan kotoran hewan warga, menghasilkan energi untuk kebutuhan rumah tangga sekaligus menggerakkan perangkat pertanian.
Teknologi penyiraman infus tetes diterapkan untuk mengalirkan air langsung ke perakaran secara bertahap, memangkas pemborosan yang terjadi pada penyiraman konvensional.
Pengaturan sistem tersebut dijalankan berbasis aplikasi, memungkinkan petani menentukan jadwal dan volume air tanpa harus berada di lahan sepanjang waktu.
Hasil paling nyata dari rangkaian itu adalah kemampuan warga memanen dua kali setahun, sebuah lompatan yang langsung menggandakan potensi pendapatan dari lahan yang sama.
Ampas pengolahan biogas dimanfaatkan menjadi pupuk organik cair Bio-Slurry, menutup rantai pemanfaatan sekaligus memangkas belanja sarana produksi.
Bio-Slurry memiliki nilai lebih karena unsur haranya telah terurai sehingga lebih mudah diserap tanaman dibanding kotoran hewan yang diberikan dalam keadaan mentah.
Dapur sehat dijalankan untuk menyediakan makanan tambahan bagi balita dan lansia, memanfaatkan hasil panen dari lahan yang kini berproduksi lebih sering.
Keterhubungan itulah yang menjadikan program bermakna, karena perbaikan sistem pengairan pada akhirnya terbaca pada membaiknya gizi kelompok paling rentan di kampung tersebut.
- Perusahaan pelaksana
- PT Pertamina Patra Niaga - Fuel Terminal Pare - Pare
- Sektor perusahaan
- Migas
- Wilayah
- Kota Parepare, Sulawesi Selatan
- Pilar SDGs
- SDG 7
- Tahun
- 2024