Program Ketapang Kuning yang lebih dulu berjalan di sekitar PLTGU Priok berhasil menurunkan angka balita bergizi kurang, tetapi menyisakan pertanyaan yang lebih dalam. Anak-anak yang berat badannya naik ternyata belum tentu pulih kemampuan belajarnya.
KELASI EMAS lahir sebagai jawaban atas pertanyaan itu. Kepanjangannya, Keberlanjutan Program Ketapang Kuning melalui Stunting menuju Generasi Emas, menandai perpindahan fokus dari ukuran tubuh ke sesuatu yang tidak tampak pada timbangan, yakni perkembangan kognitif.
Dasar ilmiahnya kuat. Kekurangan gizi kronis pada seribu hari pertama kehidupan meninggalkan jejak paling permanen bukan pada tinggi badan, melainkan pada pembentukan jaringan otak, sehingga pemulihan menuntut rangsangan yang terstruktur dan bukan sekadar tambahan kalori.
Instrumen yang dipilih adalah Kuesioner Pra Skrining Perkembangan, alat yang sudah akrab di tangan kader posyandu dan guru PAUD. Dengan memakai perangkat yang sudah dikenal, program tidak perlu memulai pelatihan dari nol dan hasilnya lebih cepat melembaga.
Para ibu dilatih bersama sejumlah warga yang disiapkan sebagai agen stimulasi. Peran ini penting karena rangsangan motorik hanya berdampak bila dilakukan berulang setiap hari di rumah, bukan sebulan sekali ketika posyandu digelar.
Alat peraga edukatifnya dibuat dari bahan daur ulang seperti kertas dan cangkang. Pilihan ini menekan biaya sehingga keluarga mampu menyediakan sendiri, sekaligus menanamkan kebiasaan memandang barang bekas sebagai sumber daya.
Pemantauan jangka panjang ditopang Inclusive Learning Center yang mempertemukan orang tua, guru, dan terapis dalam satu meja. Kehadiran terapis memungkinkan anak dengan hambatan perkembangan tertentu memperoleh penanganan yang sesuai, bukan disamaratakan.
Pelatihan daring melengkapi jalur tatap muka agar ibu yang terikat pekerjaan tetap dapat mengikuti materi dari rumah. Format video yang ringkas membuat pengetahuan mudah diulang kapan saja tanpa bergantung jadwal fasilitator.
Sisi ekonomi keluarga tidak dibiarkan berjalan sendiri. Program bersinggungan dengan Pesona Betawi melalui kegiatan pemberdayaan warga, termasuk inovasi pengolahan baglog jamur yang memanfaatkan limbah non-B3 kegiatan pembangkitan sebagai bahan baku.
Pengukuran menunjukkan nilai Social Return on Investment sebesar 1,92, artinya setiap satu rupiah yang ditanamkan menghasilkan nilai sosial hampir dua kali lipat. Rangkaian gizi, stimulasi, dan penghasilan keluarga inilah yang membuat penanganan stunting di Priok tidak berhenti pada pemberian makanan tambahan.
- Perusahaan pelaksana
- PT PLN Indonesia Power PLTGU Priok
- Sektor perusahaan
- Energi Pembangkitan
- Wilayah
- Kota Jakarta Utara, DKI Jakarta
- Pilar SDGs
- SDG 3
- Tahun
- 2025