Burung maleo merupakan satwa endemik Sulawesi yang bertelur dengan cara unik, yaitu memendamnya di pasir panas dan meninggalkannya menetas tanpa pengeraman induk.
Cara berkembang biak tersebut menjadikan telurnya mudah diambil manusia, dan pengambilan berlebihan selama puluhan tahun menyusutkan populasinya hingga terancam punah.
SINAPATU, kependekan dari Sinergi Pertanian Terpadu Efisien dan Berkelanjutan, dijalankan PT Panca Amara Utama di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, dengan menyatukan penangkaran maleo dan penguatan pertanian.
Penangkaran bernama Pelangi Maleo dijalankan untuk mengamankan telur hingga menetas, meningkatkan peluang hidup anakan yang di alam sangat rendah.
Keberhasilan penangkaran semacam ini menuntut pemahaman rinci mengenai suhu pasir dan kondisi sarang, sehingga menuntut pendampingan teknis yang berkelanjutan.
Kotoran ternak dimanfaatkan sebagai bahan dasar pupuk organik, mengubah limbah peternakan yang mencemari lingkungan menjadi sarana produksi bagi lahan pertanian.
Pelatihan dan pendampingan diberikan kepada petani serta Kelompok Wanita Tani, memastikan keterampilan pengolahan menyebar dan tidak berhenti pada segelintir orang.
Pelibatan kelompok perempuan memiliki arti penting. Alasannya, merekalah yang paling banyak mengelola kegiatan harian di lahan pekarangan dan sekitar rumah.
Peningkatan produktivitas pertanian yang dihasilkan berdampak langsung pada pendapatan warga, memberi alasan ekonomi untuk tidak lagi mengandalkan pengambilan telur maleo.
Keterkaitan itulah yang menjadikan konservasi satwa dan penguatan pertanian tidak dapat dipisahkan, karena perlindungan satwa hanya bertahan bila warga memiliki sumber penghidupan yang memadai.
- Perusahaan pelaksana
- PT Panca Amara Utama
- Sektor perusahaan
- Petrokimia & Industri Kimia
- Wilayah
- Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah
- Pilar SDGs
- SDG 15
- Tahun
- 2024