Desa-desa di sekitar kawasan hutan Jepara menghadapi persoalan yang tampak berlawanan, yaitu berlimpah air pada musim hujan namun kesulitan mendapatkannya pada musim kemarau.
Sindhu Laris yang dijalankan PT PLN Persero Pembangkitan Tanjung Jati B menempatkan konservasi air sebagai poros dengan kerangka ekonomi sirkular sebagai penggeraknya.
FABA atau sisa pembakaran batu bara dimanfaatkan sebagai bahan pengisi biopori dan sumur resapan, mengubah limbah operasional pembangkit menjadi sarana yang meresapkan air ke dalam tanah.
Biopori bekerja dengan memperbesar laju peresapan sehingga air hujan tersimpan sebagai cadangan tanah, bukan mengalir sia-sia ke laut sambil membawa lapisan tanah subur.
Agroforestri diterapkan melalui penanaman balsa dan kopi, memadukan pohon cepat tumbuh bernilai kayu dengan tanaman yang memberi penghasilan tahunan bagi petani.
Perpaduan dua jenis tanaman itu menjawab kelemahan program penghijauan biasa, yakni jeda panjang tanpa penghasilan yang membuat petani kehilangan minat merawat tanamannya.
Budidaya madu dikembangkan sebagai penanda keberhasilan sekaligus sumber pendapatan, mengingat lebah hanya bertahan pada kawasan dengan keragaman bunga yang memadai.
Peternakan silvopastura menggabungkan pemeliharaan ternak dengan tegakan pohon, memungkinkan lahan yang sama menghasilkan kayu, hijauan, dan ternak secara bersamaan.
UMKM keripik dikembangkan sebagai lini hilir yang menyerap hasil kebun warga dan memberi nilai tambah sebelum produk keluar dari desa.
Distribusi air masyarakat yang dikenal sebagai Airmas dikelola berbasis aplikasi ke sekolah, tempat ibadah, dan lahan pertanian, memastikan air hasil konservasi mengalir kembali ke kebutuhan warga secara tercatat dan adil.
- Perusahaan pelaksana
- PT PLN (Persero) Pembangkitan Tanjung Jati B
- Sektor perusahaan
- Energi Pembangkitan
- Wilayah
- Kabupaten Jepara, Jawa Tengah
- Pilar SDGs
- SDG 6
- Tahun
- 2024