Garam rakyat diproduksi dengan cara yang hampir tidak berubah selama puluhan tahun, mengandalkan penguapan air laut oleh sinar matahari selama berminggu-minggu.
Ketergantungan pada cuaca itulah yang membuat produksi anjlok ketika hujan datang, dan Kabupaten Bangkalan hanya mampu memenuhi sebagian kecil dari target produksinya.
SIRAM BERBAKAT yang dijalankan PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore dari basis operasinya di Gresik menyikapi keadaan tersebut melalui kristalisasi garam berbahan bakar briket rakyat.
Briket yang dipakai dibuat dari sampah warga yang tidak memiliki nilai ekonomi, sehingga satu inovasi menjawab persoalan persampahan sekaligus rendahnya produksi garam.
Sampah yang dikumpulkan kelompok ditukar dengan briket, sebuah mekanisme yang membuat warga memiliki alasan langsung untuk membersihkan lingkungannya.
Proses kristalisasi dengan pemanasan terkendali menghasilkan sekitar lima puluh kilogram garam dalam empat sampai lima jam, jauh lebih cepat dibanding penguapan alami.
Mutu garam ikut membaik dengan warna lebih putih dan butiran lebih halus, dan kadar natrium klorida naik dari sekitar 56 persen menjadi lebih dari 94 persen sehingga memenuhi standar garam konsumsi.
Teknologi ulir filter diterapkan berdampingan untuk mempercepat penguapan, memangkas siklus produksi dari sekitar tiga sampai empat minggu menjadi sekitar dua minggu.
Produksi Salt Centre naik dari 36 ton menjadi 52 ton dan berlanjut ke angka yang lebih tinggi pada tahun berikutnya, dengan emisi gas rumah kaca ditekan hingga 85 persen.
Jaringan kerja sama petani garam dikembangkan bersama badan usaha milik desa untuk menata distribusi, memutus permainan harga oleh tengkulak yang selama bertahun-tahun menekan pendapatan petambak.
- Perusahaan pelaksana
- PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO)
- Sektor perusahaan
- Migas
- Wilayah
- Kabupaten Gresik, Jawa Timur
- Pilar SDGs
- SDG 8
- Tahun
- 2023