Kawasan Salira di Cilegon berbatasan langsung dengan perairan, menjadikan sampah plastik yang tidak terkelola cepat berpindah dari daratan ke laut dan merusak ekosistem pesisir.
TEPIAN SALIRA BIRU yang dijalankan PT PLN Indonesia Power PLTU Banten 1 Suralaya mengusung gagasan Integrated Plastic Management for Blue Economy untuk memutus perpindahan tersebut.
Istilah blue economy menandai orientasi program, yaitu membangun kegiatan ekonomi yang bertumpu pada perairan sehat, bukan pada eksploitasi yang menghabiskannya.
Buangan organik diproses menjadi bahan bakar jumputan padat, memberi nilai kalor pada bahan yang sebelumnya hanya menimbulkan bau dan lindi di tempat penampungan.
Sampah plastik ditangani melalui pirolisis, proses penguraian pada suhu tinggi tanpa oksigen yang mengubah polimer plastik kembali menjadi bahan bakar cair.
Bahan bakar hasil pirolisis dipakai untuk menggerakkan kapal serta kendaraan pengangkut sampah, sehingga sarana pengumpulan sampah dijalankan oleh energi dari sampah itu sendiri.
Putaran tertutup semacam ini memangkas biaya operasional yang biasanya menjadi penyebab utama berhentinya layanan pengangkutan sampah di tingkat desa.
Aplikasi Simaskot dipakai untuk mengelola seluruh alur, mulai dari pencatatan setoran warga hingga pemantauan armada, menjadikan pengelolaan terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.
Kelompok perempuan diberdayakan melalui diversifikasi produk makanan UMKM, menyediakan sumber pendapatan yang tidak bergantung pada volume sampah yang terkumpul.
Orang Dengan Gangguan Jiwa dilibatkan dalam pengelolaan bank sampah, memberi kegiatan terstruktur yang berfungsi sebagai terapi sekaligus mengembalikan peran sosial mereka di tengah masyarakat.
- Perusahaan pelaksana
- PT PLN Indonesia Power PLTU Banten 1 Suralaya
- Sektor perusahaan
- Energi Pembangkitan
- Wilayah
- Kota Cilegon, Banten
- Pilar SDGs
- SDG 12
- Tahun
- 2024