Lahan gambut menyimpan karbon dalam jumlah sangat besar, namun begitu air tanahnya turun, gambut kering berubah menjadi bahan bakar yang api di dalamnya sulit dipadamkan.
TUAH GAMBUT BERSEMI yang dijalankan PT Kilang Pertamina Internasional Refinery Unit II Produksi Sungai Pakning di Kabupaten Bengkalis, Riau, menyasar akar persoalan itu, yaitu pengendalian tinggi muka air.
Alat ukur level air gambut dikembangkan sebagai perangkat pemantau, memberi peringatan dini ketika permukaan air turun mendekati batas rawan kebakaran.
Pemantauan semacam ini mengubah pola penanganan dari memadamkan setelah api muncul menjadi mencegah sebelum kondisi kering tercapai.
Alat bernama EXPINTABLE dirancang untuk mengeluarkan air dari dalam tanah gambut dan memanfaatkannya sebagai media pemadaman api.
Gagasan ini menjawab kendala klasik pemadaman di lahan gambut, yakni jauhnya sumber air permukaan padahal air tersimpan melimpah di bawah kaki para petugas.
Pompa pertanian digerakkan tenaga matahari, memungkinkan pengairan lahan berjalan tanpa bahan bakar di lokasi yang jauh dari jaringan listrik.
Budidaya nanas dikembangkan di lahan gambut karena tanaman ini tumbuh baik pada tanah masam yang menjadi ciri khas kawasan tersebut.
Budidaya sayur melengkapi lini pertanian sebagai sumber pangan sekaligus penghasilan jangka pendek bagi warga yang mengelola lahan.
Kelompok Masyarakat Peduli Api dibentuk sebagai garis pertahanan terdepan, lantaran kebakaran gambut hanya dapat ditangani secara efektif bila terdeteksi dan dipadamkan pada jam-jam pertama.
- Perusahaan pelaksana
- PT Kilang Pertamina Internasional Refinery Unit II Produksi Sungai Pakning
- Sektor perusahaan
- Migas
- Wilayah
- Kabupaten Bengkalis, Riau
- Pilar SDGs
- SDG 15
- Tahun
- 2024